Pages

Kamis, 25 Januari 2024

Surga Itu Ada Di Rumahmu

           Teringat nasehat dari seorang guru besar kami yang sangat berjasa, yang senantiasa menanamkan rasa cinta dan kesungguhan terhadap ilmu. Beliau mengatakan bahwa “belajar itu bisa dimanapun dan dengan siapapun, maka jadikan setiap waktu kita sebagai sarana untuk belajar, karena belajar tidak harus bersama buku dan di dalam kelas”.

       Terkadang ketika berada dalam kondisi atau keadaan tidak normal dimana kita bisa melakukan rutinitas harian yang sesuai dengan target kita, maka mungkin ada perasaan kecewa, atau menyalahkan diri dan kondisi sehingga yang terjadi hati kita tak lapang dan tak dapat menikmati kondisi tersebut. Padahal bisa jadi kondisi tersebut adalah menjadi tempat kita belajar dan mendapat hikmah yang besar untuk kehidupan. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memiliki kesadaran untuk mendatangkan niat dan pandai mencari hikmah dari setiap yang terjadi. Diantara kondisi tersebut misalkan ketika sedang bersama keluarga, atau di rumah saudara, kerabat, atau ketika sedang safar atau sakit.

        Padahal dengan kita bersosialisasi, mengamati banyak hal, juga dengan fasilitas serta kemudahan teknologi hari ini banyak yang bisa kita lakukan meskipun kita dalam kondisi tidak seperti biasa.

Termasuk diantaranya ketika menonton film bersama saudara pun juga bisa bernilai ibadah, jika diniatkan untuk menjalin silaturahim, juga diniatkan untuk mendapatkan pembelajaran dari kisah yang ada di dalamnya. Karena di setiap kisah atau cerita yang dibuat pasti memiliki pesan yang ingin disampaikan bagi para penontonnya. Meskipun demikian kita harus pandai memilih tontonan yang baik, yang tidak ada unsur kemaksiatan yang bisa memotivasi kita untuk melakukan yang sama atau setidaknya menjadikan kita tahu akan kemaksiatan yang mungkin sebelumnya kita belum mengetahuinya.

Film “Ada Surga Di Rumahmu”, adalah salah satu film yang mungkin nampak sederhana, namun di dalamnya ada pesan yang dalam. Terutama bagi kita yang masih menjadi seorang anak, yang terkadang atau bahkan sering masih bersikap kurang sopan atau belum bisa berbakti dengan maksimal dan ketulusan hati. Film yang berhasil membuat diri ini mengalirkan air mata, antara malu, menyesal, tertampar, dan bersyukur masih Allah beri nasehat melalui perantara kisah tersebut, dan masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan kedua orangtua dan memberikan bakti yang terbaik.

Ada beberapa hikmah yang bis akita dapatkan dari film tersebut, diantaranya: 

·     Seorang ayah yang bertanggung jawab atas kewajibannya, maka akan bersungguh- sungguh dalam mendidik anaknya walaupun memiliki keterbatasan harta atau fasilitas yang dimilikinya.

·      Seorang ayah dan ibu harus memiliki visi yang sama ketika berharap anaknya menjadi seorang yang hebat di masa depan. Selain itu, orangtua, terutama ayah harus sering berkomunikasi, termasuk menyampaikan visi yang diharapkannya tersebut kepada anaknya,  serta memotivasi dan mengarahkannya untuk selalu melangkah kea rah tersebut.

·      Menuntut ilmu membutuhkan pengorbanan dan mengeyampingkan perasaan rindu. Karena cinta yang sebenarnya adalah keinginan untuk bersama dan berkumpul di akhirat, yakni di surga-Nya.

·    Orangtua yang merasa memiliki keterbatasan pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghadirkan lingkungan dan guru- guru terbaik yang bisa mendidik serta mendoakannya. Maka orangtua harus selalu berkomunikasi dengan baik dan selalu memberikan kepercayaan serta menghormati para guru yang mendidik anak- anaknya.

·       Doa adalah hadiah terbaik dari orangtua untuk anak- anaknya.

·    Dalam menuntut ilmu harus memiliki keberanian dalam bertanya, berpendapat dan perlu melatih diri untuk sering menyampaikan agar ilmunya bisa bermanfaat.

·    Ridha orangtua adalah kunci tuk mendapatkan ridha Allah serta keberkahan dan kemudahan- kemudahan. Dan sebaliknya, apabila melakukan perkara yang tidak diridhai orangtua maka akan ada kegelisahan dan sulit tuk memperoleh kemudahan serta keberkahan.

·       Ada banyak pintu surga yang bisa kita cari, namun kita sering lupa dengan pintu surga yang sebenarnya sangat mudah, dekat dan cepat kita didapatkan. Pintu surga itu ada di dalam rumah kita sendiri, yaitu pada orangtua kita. Melayani mereka serta berbakti kepadanya dengan memberikan apa yang kita miliki.

·    Keinginan, ambisi, atau cita- cita kita setinggi apapun tetap memerlukan ridha kedua orangtua, dan apabila itu tidak tercapai maka jika kita masih memiliki orangtua maka tetap ada surga yang Allah hamparkan tuk kita raih, yaitu di rumah kita dimana ada orangtua, selain juga ada saudara- saudara kita.

Sebagai penutup, teringat sabda Sang Baginda saw, yang berkata:

 

رَغِمَ أَنْفُهُ ، رَغِمَ أَنْفُهُ ، رَغِمَ أَنْفُهُ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبْرِ ، أَوْ أَحَدَهُمَا ، فَدَخَلَ النَّارَ

“Celaka orang itu, celaka orang itu, celaka orang itu!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa itu?” Rasulullah menjawab, “Orang yang celaka adalah orang yang mendapati keduanya masih hidup, atau salah satu darinya, tapi dia masuk neraka (karenanya).” (Hr. Muslim)

Allah swt juga berfirman:


وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا‌ ؕ اِمَّا يَـبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوۡ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيۡمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik” (QS. Al-Isra’: 23)

Wallahu a’lam bish shawab

             

 

Rabu, 24 Januari 2024

Sultan Agung: Sang Pemimpin dan Pengobar Jihad di Bumi Mataram

Melahirkan generasi pejuang memerlukan kesungguhan, pengorbanan, juga metode yang tepat. Dengan belajar sejarah, kita akan mengerti bagaimana perjuangan, kesungguhan dan motode yang digunakan generasi dahulu dalam melahirkan para mujahid, pemimpin, juga alim ulama yang berpengaruh, serta memiliki peran dalam menjaga serta menyebarkan ajaran Islam.

Film “Sultan Agung” adalah salah satu film sejarah yang menggambarkan bagaimana Sultan itu dilahirkan, dibesarkan, dididik, dan ditempa dengan berbagai macam pendidikan oleh guru- guru terbaik yang dipilihkan oleh orangtuanya, sehingga menjadikannya sosok pemimpin yang berilmu, memiliki keimanan yang kuat, kepribadian yang kokoh, dan mental baja sehingga mampu untuk memegang amanah kepemimpinan tersebut, serta memegang teguh kedaulatan Islam, dan bersikap tegas terhadap penjajah yang merupakan musuh Islam, dimana mereka mengancam kaum muslimin, kekuasaan serta kekayaan negerinya.

Terlepas dari ada tidaknya penggambaran yang mungkin kurang sesuai, atau penokohan yang kurang menampakkan ajaran Islam, tapi banyak hal yang bisa kita petik dari film sejarah ini. Terlepas dari sumber sejarah yang mungkin lebih utama dan lengkap dari film, yakni seperti buku, namun dari film berdurasi sekitar 2,5 jam ini kita bisa mengambil beberapa pelajran, diantaranya:

1.         Menghormati dan mematuhi guru adalah perkara penting. Tapi tidak boleh sampai melampui batas, seperti mentaqdiskan (mensucikan, sehingga menganggap guru tersebut tidak memiliki salah atau dosa apapun).

2.         Pendidikan yang baik biasanya diperoleh jauh dari pusat pemerintahan dan kekuasaan, dimana bisa belajar adab, kesederhanaan, bersosialisasi dan mengenal rakyat kecil, juga belajar ilmu- ilmu dasar yang harus dimiliki.

3.     Anak yang memiliki nasab yang baik harus dididik dengan penuh ke-tawadhu’an terhadap siapapun. Nasab tersebut tidak perlu disebut- sebut di hadapan anak dalam rangka untuk membanggakan diri, sehingga bisa menimbulkan kesombongan dan keangkuhan ketika bergaul dengan orang lain.

4.      Menjaga pergaulan harus ditanamkan sejak kecil, dan lebih ketat lagi ketika menjelang masa baligh, karena hal itu akan menyebabkan semakin berkobarnya gharizah nau’ jika hal itu terus dibiarkan.

5.     Ketika seseorang diberi amanah kepemimpinan, maka harus memandang amanah itu sebagai sebuah tanggung jawab yang besar yang akan ditanya oleh-Nya. Jika pada akhirnya harus mengambil amanah tersebut, maka harus difahami bahwa semua itu semata- mata tuk menjalankan perintah-Nya dan untuk menjaga penerapan Islam serta menjaga persatuan ummat agar tidak terpecah belah akibat adanya penjajahan.

6.   Merupakan suatu hal yang baik bagi seorang pemimpin adalah mendengarkan orang- orang yang memiliki pengalaman dalam menjalankan atau mengambil keputusan yang besar. Akan tetapi jangan sampai disetir dan dikendalikan, melainkan untuk menjadi pertimbangan.

7.     Mengusir penjajah adalah sebuah keharusan, bukan hanya dengan landasan cinta akan bangsa atau tanah air, namun adalah bagian dari perintah Islam untuk melakukan jihad difensif (difai), atau mempertahankan serangan musuh Islam dari luar, dimana serangan itu mengancam kedaulatan, keamanan, persatuan, dan kepemimpinan negeri Islam.  

8.   Jihad itu memperlukan persiapan, namun jumlah serta persenjataan yang tidak sebanding dengan musuh bukan menjadi suatu alasan untuk meninggalkan medan jihad.

9.     Ketaatan kepada pemimpin adalah perkara yang wajib, penting, juga menjadi kunci keberhasilan dan persatuan. Dan sebaliknya, jika tidak ada ketaatan maka yang terjadi akan memicu munculnya para pengkhianat, baik dengan niat yang benar ataupun salah, dimana hal itu bisa menimbulkan kelemahan dan terpecah belahnya barisan kaum muslimin.

10.    Seorang pemimpin harus mampu memiliki cara pandang yang jauh dan panjang, serta memiliki ketegasan tanpa mengabaikan adanya masukan. Namun harus dibarengi kesadaran yang penuh, sehingga tidak disetir oleh orang- orang yang ada di sekelilingnya.

11. Ketika kaum muslimin kalah dalam peperangan bukan berarti seorang pemimpin telah mengorbankan nyawa rakyatnya dalam pertempuran tersebut. Karena seorang muslim meyakini bahwa kematian dalam medan perang adalah sebuah kemuliaan, karena dengan syahid dia akan mendapatkan surga tanpa hisab. Dan akhir dari jihad tak lain adalah dengan menang dengan kemuliaan atau mati dalam kondisi syahid.

12. Seorang ibu memiliki pengaruh besar bagi anak-anaknya, mulai dari mendidik, meyakinkan, memotivasi, menanamkan visi, serta mendukung juga menasehatinya, terutama jika ia telah mendapatkan suatu amanah yang besar, yang semua itu akan menjadi ladang pahala baginya.

13.  Seorang pemimpin yang memiliki iman dan kecerdasan akan berusaha mepersatukan kekuatan kaum muslimin yang terpecah belah dan menyadarkan saudaranya agar tidak rela jika dipermainkan atau diperbudak oleh para penjajah

14.  Melawan para penjajah dengan keberanian akan menanamkan rasa takut kepada mereka, yang dampaknya tak hanya saat itu, tapi juga pada masa- masa atau generasi- generasi setelahnya.

15.    Seorang pemimpin juga harus memikirkan bagaimana membangun serta mempersiapkan generasi yang bisa melanjutkan estafet perjuangan dan kepemimpinan, baik itu dari anaknya sendiri atau dari generasi yang ada di dalam wilayah kepemimpinannya.

16.    Wilayah Nusantara adalah wilayah yang tidak terpisah dari kepemimpinan Khilafah Utsmaniyah di tahun 1960 an. Dimana ketika itu dipimpin oleh Sulthan Orhan, yang kemudian mengakui kepemimpinan Sultan Agung untuk wilayah Mataram.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Bangkit dari Kesedihan dan Menjadi Wasilah Hidayah di Negeri Tirai Bambu

      Mungkin dalam kehidupan kita ada hal- hal yang nampak remeh, namun terkadang ada hikmah yang dalam jika kita selalu berfikir dan mengkaitkan fakta yang kita indra dengan pemahaman.

        Mungkin dalam kehidupan kita, terkadang kita membutuhkan rehat sejenak dari rutinitas. Bernafas untuk merenung, berfikir dan mengmabil hikmah dari apa yang ada di sekitar.

        Selingan tidak selalu sesuatu yang melenakan. Selama ada niat baik, dan tidak keluar dari batasan, maka semoga semua menjadi ladang pahala. Hanya berharap bertambahnya iman dan ilmu dari setiap kejadian yang mungkin tidak kita alami, namun terjadi para orang lain. Kita bisa mengambil pelajaran, dan pengalaman. Jika ada kebaikan, maka bisa kita jadikan teladan. Namun jika tidak sesuai dengan tuntunan-Nya, maka bisa kita kritisi tuk jadikan bahan intropeksi dan muhasabah diri.            

          Film “Assalamualikum Beijing” yang sudah terbit sejak tahun 2014 ini, bagi saya adalah film baru, yang begitu menginspirasi. Film ini menggambarkan seorang perempuan muslimah yang begitu teguh memegang ajaran Islam yang dipahaminya, sekalipun berada di tengah masyarakat yang mayoritas non muslim. Film yang mengisahkan persahabatan yang tulus, dan juga kesungguhan seorang jurnalis yang begitu amanah dan menginspirasi banyak orang dari tulisan- tulisannya. 

Tak hanya itu, keteguhan seorang muslimah dalam memegang ajaran din-nya itu juga menjadi wasilah tuk mendapatkan hidayah bagi seseorang yang kemudian mengenalnya. Meskipun ia menghadapi ujian yang begitu berat, mulai dari pernikahan yang gagal, hingga penyakit yang begitu parah, sampai ia tidak dapat lagi menyaksiakan dunia dengan kedua matanya, akan tetapi dia tetap ikhlas dan yakin akan ketetapan dari Rabb adalah yang terbaik.

           Berikut ini beberapa hikmah yang bisa kita dapatkan dari film tersebut: 

· Ketika ada seorang laki- laki yang mencintai perempuan, namun pada akhirnya menikah dengan wanita lain, maka seharusnya laki- laki tersebut mengikhlaskan dan menjauhi serta melupakan wanita yang disukainya tersebut. Adapun wanita yang disukainya, maka tidak perlu mempedulikan godaan laki- laki tersebut, sekalipun ia berniat serius dengannya, jika laki-laki tersebut sudah jelas tidak baik agamanya atau melakukan kemaksiatan yang besar sebelum dia menikah. Apalagi jika dengan kembalinya dengan dirinya justru menyakiti dan meninggalkan istri yang sudah dinikahinya. Dan wanita tersebut justru harus berusaha menguatkan istrinya jika menghubunginya, serta senantiasa mengharapkan kebahagiaan bagi keluarganya.

·       Walaupun khitbah sudah terjadi, hari pernikahan sudah ditentukan akan tetapi calon bukanlah siapa- siapa. Sehingga tetap harus menjaga, dan bisa saja akad tersebut dibatalkan karena alasan yang syari’i, seperti diketahuinya bahwa calon tersebut telah melakukan maksiat besar yang dampaknya bisa ke masa depannya, dan mengungkap sifat asli orang tersebut.

·    Yakin dan optimis akan janji Allah dan kebaikan yang akan diberikannya, termasuk dalam masalah jodoh. Tidak jadi menikah dengan seseorang artinya bukan keburukan atau kegagalan, akan tetapi banyak hikmah yang pasti ada di baliknya, dan jika ikhlas  maka akan jadi ladang pahala serta Allah gantikan yang jauh lebih baik.


·     Terus memegang kebenaran dan syariat-Nya sekalipun berada di negara yang minoritas muslim. Berani menyampaikan kebenaran, dan menyampaikan ajaran Islam apa adanya.

·      Menjaga amanah sebaik- baiknya, termasuk dalam karir. Dan menjadikan karir sebagai wasilah untuk dakwah, bukan sekedar cari penghasilan.

·    Di tempat yang baru atau asing, seseorang harus berani bertanya, terutama dalam kondisi sulit dan bingung.

·    Jika punya sakit yang sering kambuh, jangan sampai disepelekan. Karena bisa jadi ada penyakit parah yang menumpuk sedikit demi sedikit.

·   Tidak perlu mengabarkan informasi yang kurang baik kepada orang yang kita cintai, agar dia tidak khawatir dan sedih, kecuali memang ada keperluan terkait masa depan yang memang perlu dipertimbangkan dan diputuskan.

·    Tidak ada yang lebih mulia dari usaha untuk menjadi wasilah seseorang mendapatkan hidayah. Dan orang yang mengantarkan hidayah kepada kita adalah orang yang sangat berharga dalam hidup kita.

·   Laki- laki yang shalih akan mencintai dengan tulus walaupun istrinya memiliki kekurangan, bahkan kekurangan yang tidak biasa. Dia akan tetap membimbing dan memberikan hak- hak istrinya. 

·     Dalam menghadapi ujian yang begitu berat tetap harus ikhlas dan yakin akan ketetapan dari Rabb adalah yang terbaik. Dan pasangan yang sholih/ah akan saling menguatkan satu sama lain untuk tetap yakin akan rahmat dan pertolongan-Nya.   

·   Persahabatan yang dibangun karena-Nya akan terus terjalin dan terjaga. Persahabatan tersebut akan menuntut adanya pengorbanan yang terkadang di luar dugaan.

·   Yang terpenting dari pasangan adalah agamanya. Kesalihan adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan apapun.

·   Orang yang senantiasa mau belajar jauh lebih baik, daripada yang merasa sudah baik sehingga tidak lagi mau belajar.

Wallahu a’lam

Selasa, 12 Desember 2023

Free Palestina itu Bukan Sekedar… (Part 3)

Bukan sekedar dengan bantuan makanan, uang, obat-obatan, dan kain kafan, akan tetapi Gaza dan Palestina membutuhkan tentara, perwira dan militer tuk taklukkan para penjajah dan mengembalikan kemuliaan. 

Bumi Palestina adalah bumi yang subur nan kaya. Layaknya negeri kaum muslimin yang lainnya. Selain berbagai macam buah- buahan dan sayur yang berlimpah, minyak, gas, marmer adalah bahan mentah yang tersimpan begitu banyak di dalam perut bumi para nabi itu.  Namun, mengapa semua kekayaan itu nampak seperti tak ada? Tak lain karena adanya penjajahan, sehingga menjadikan mereka seolah seperti negara yang miskin. Jangankan hidup yang serba berkecukupan, kebutuhan yang paling mendasar saja banyak yang tidak bisa mendapatkan. Air bersih, makan, juga pendidikan. Terutama di wilayah Gaza yang telah diblokade selama belasan tahun lamanya. 

Jika penjajahan itu tiada, maka kekayaan itu akan begitu terasa, berbagai faktor yang dapat memajukan negara pun akan sangat mudah sekali diakses dalam rangka mengembangkan potensi kecerdasan SDM yang ada, juga SDA yang Allah anugrahkan dengan begitu berlimpahnya. Maka, seandainya Palestina telah terlepas dari belenggu penjajahan, maka bukan perkara yang mustahil jika merekalah yang akan memasok kekayaan alam yang dibutuhkan oleh negeri- negeri kaum muslimin lainnya. 

Sehingga ketika seruan para ulama, penguasa, dan kaum muslimin yang turun  di jalanan juga di sosial media, hanya sekedar untuk mengajak serta mendorong tuk memberi bantuan obat- obatan, makanan, dan kain kafan saja, maka seolah kita sedang mempersiapkan mereka untuk hidup, bertahan sebentar untuk menjemput kematian dalam pemboikotan dan pembantaian yang nan brutal. 

Tanpa bermaksud menafikan, faktanya memang mereka membutuhkan hal itu semua dalam kondisi perang. Dimana pasokan makanan semakin habis, gudang penyimpanan makanan dan supermarket juga dibombardir, obat- obatan semakin menipis lantaran banyaknya yang terluka, kain kafan tak lagi tersisa, lantaran yang gugur syahid terus bertambah setiap harinya. Semua itu memang dibutuhkan, tapi merupakan cara berfikir yang dangkal jika membatasi ajakan, seruan dan bantuan itu sekedar pada bantuan kemanusiaan. 

Pada dasarnya yang dibutuhkan kaum muslimin disana adalah para penakluk, dimana mereka bisa mengusir dan memberi pelajaran dengan satu- satunya bahasa yang difahami oleh para penjajah. Bahasa perang dan perlawanan fisik. Sudah semestinya penjajahan itu dilawan dengan kekuatan fisik yang setimpal. Perang yang terus mereka gencarkan tanpa henti itu tak lain harus dilawan dengan peperangan yang serupa. Kekuatan tentara dan militer yang mereka persiapkan dan gunakan juga harus dilawan dengan yang sepadan. 

Sungguh suatu kedangkalan berfikir, ketika barat saja memperlakukan apa yang terjadi di Palestina sebagai suatu peperangan sehingga mereka mengirimkan militernya, jet- jet tempurnya, kapal perangnya, hingga senjata- senjata tercanggihnya, namun kaum Muslimin hanya memperlakukan hal ini sebagai bencana kemanusiaan. 

Sungguh miris, ketika dengan kekufuran dan kebatilan itu saja, dengan penuh percaya dirinya mereka membantu kawan mereka dengan kekuatan tentara, para perwiranya, juga senjatanya tanpa perhitungan dan tanpa rasa takut dan berfikir panjang. Sedangkan kaum muslimin hanya menganggap ini sebagai krisis kemanusiaan, atau hanya sekedar tontonan di balik layar?

Jika para penguasa dan tentara kaum muslimin beralasan adanya nasionalisme dan tapal batas negara, nyatanya dalam kondisi peperangan semua itu hanyalah omong kosong yang tak berguna. Bukankah AS dan Inggris menembus batas negaranya untuk memberi bantuan kepada Israel? Bukankah Turki mengirim pasukkannya ke Ukraina saat diperangi oleh Rusia? Bukankah Turki mengirim tentaranya untuk melawan kaum revolusioner di Suriah? Bukankah AS (sebagai pengusung ideologi sukuler- kapitalis) yang menanamkan ide sekat negara justru dengan ringan dan cepat membantu Ukraina saat perang dengan Rusia? Bukankah para mujahid dari Gaza sudah membuktikkan bahwa batas- batas itu nyatanya bisa dengan mudah dan sederhana tuk ditembus dan dihancurkan?

Nyatanya ide nasionalisme sendiri adalah produk barat yang haram kita adopsi, yakini apalagi dipuja dan dipuji. Ia hanyalah bagian dari strategi barat tuk memecah tubuh umat, agar lemah, tak berdaya, dan tak lagi ada persatuan yang dapat gentarkan para musuh yang terlaknat. Ide itu yang menghilangkan ikatan akidah yang begitu membuat para musuh ketakutan.

Maka ketika kita sudah tidak lagi bisa berharap pada para penguasa di negeri- negeri kaum muslimin, maka yang harus terus menerus kita serukan, termasuk juga para ulama adalah agar terus menanamkan pemahaman di tengah kaum muslimin, juga di tengah para tentara berikut para komandan dan perwiranya akan solusi yang hakiki. Bahwa Palestina membutuhkan tentara yang bisa menumpaskan penjajahan, mensucikan kembali bumi para nabi, serta menjaga jiwa serta kehormatan mereka. Merekalah ahlul quwah wa man’ah yang dahulu juga diminta pertolongannya oleh sang baginda kita agar Islam terjaga dengan tegaknya sebuah institusi yang akan menegakkan serta menyebarkan risalah tanpa henti dan takut. 

Bukankah para militer kita adalah bagian dari ummat ini? Bukankah diantara mereka adalah suadara kita, tetangga, kerabat, atau saudara teman kita, atau orang- orang yang ada di sekitar mereka? Bukankah mereka juga bagian dari kaum muslimin? Bukankah mereka juga mengimani Allah sebagai Rabbnya, Rasul sebagai panuntannya, serta Al- Quran sebagai kitab sucinya? Bukankah mereka tau bahwa Baitul Maqdis adalah kiblat pertama umat ini, serta tanah suci ketiga? Bukankah mereka tau jika Baitul Maqdis adalah tempat dimana Rasulullah diisra-kan? 

Maka ketahuilah bahwa seruan itu harus satu, tuntutan itu harus sama, yakni meminta para tentara agar segera bergerak menolong saudara kita dan bergabung dengan para mujahid yang begitu berani dan yakin akan janji-Nya. Jika itu tidak mungkin dijalankan lantaran para penguasa antek, maka tugas mereka adalah menumbangkan rezim boneka dan mengganti kepemimpinan mukhlis, yang dengannya kekuasaan digunakan tuk menolong Islam dan kaum muslimin dimanapun berada. 

Usaha ini harus terus dilakukan ada tidaknya pembantaian, harus ada seruan yang terus menerus kepada para militer tuk mengingatkan kembali konsekuaensi dari keimanan dan kewajiban yang besar nan mulia di pundak mereka. 

#FreePalestine #ArmiesToAqsha #AqsaCallsArmies #GazaUnderAttack #SavePalestine #BadaiAlaqsha #ThufanAlaqsha

Sabtu, 02 Desember 2023

Perjuangan Santriwati, Istri dan Menantu Kyai

         Mungkin dalam kehidupan kita ada hal- hal yang nampak remeh, namun terkadang ada hikmah yang dalam jika kita selalu berfikir dan mengkaitkan fakta yang kita indra dengan pemahaman.

       Mungkin dalam kehidupan kita, terkadang kita membutuhkan rehat sejenak dari rutinitas. Bernafas untuk merenung, berfikir dan mengmabil hikmah dari apa yang ada di sekitar.

      Selingan tidak selalu sesuatu yang melenakan. Selama ada niat baik, dan tidak keluar dari batasan, maka semoga semua menjadi ladang pahala. Hanya berharap bertambahnya iman dan ilmu dari setiap kejadian yang mungkin tidak kita alami, namun terjadi para orang lain. Kita bisa mengambil pelajaran, dan pengalaman. Jika ada kebaikan, maka bisa kita jadikan teladan. Namun jika tidak sesuai dengan tuntunan-Nya, maka bisa kita kritisi tuk jadikan bahan intropeksi dan muhasabah diri.

    Film “Hati Suhita” adalah sebuah film yang mengkisahkan perjalanan cinta dan perjuangan seorang santriwati yang dijodohkan dengan anak dari Kyai pesantren dimana dia menuntut ilmu. Perjalanan cinta tuk mendapatkan ridho sang suami, menaklukkan sebuah amanah mengurus pesantren besar yang melahirkan para penerus generasi.

    Ada beberapa hikmah serta pelajaran dari film ini yang bisa kita ambil:

·     Perjodohan itu bisa jadi tidak selalu sesuai dengan keinginan hati. Tapi niat yang baik dan benar akan merubah rasa yang sebelumnya belum ada menjadi ada karena-Nya.

·     Untuk meninggalkan kisah lama butuh usaha, dimana harus melupakan dan meninggalkan orang tersebut, dengan tidak perlu lagi ada komunikasi atau pertemuan, jika itu bisa menjerumuskan apalagi yang bersifat pribadi.

·     Menikah harus dilandasi rasa suka dan ridha, baik dari laki- laki atau perempuan. Karena jika hanya kasihan atau paksaan, maka akan terjadi kejadian yang tidak baik di dalam rumah tangga. Dan begitulah Rasulullah mengajarkan. Harus ada sesuatu yang disuka dari laki- laki yang dapat mendorongnya untuk menikahinya.

·     Seorang laki biasanya akan menentukan pilihannya sendiri dalam hidupnya. Kecuali jika sebelumnya dia tidak mengenal wanita, atau dia mengenal tapi melupakan  atau senantiasa mengalihkan perasaannya, sehingga dia bisa melupakan.

·     Seorang laki- laki jika dia hanya ingin berbakti kepada orang tuanya, dan termasuk menyerahkan kepada mereka dalam urusan jodoh, maka ketika dia menerima pilihan orangtuanya, dia harus berusaha memunculkan rasa suka dan cinta agar dapat memberikan hak yang sempurna kepada istrinya. Dan apabila dia punya kisah pernah menyukai perempuan lain, dan  tidak bisa melupakan kisah lamanya tersebut, maka hal itu bisa jadi menjadi factor yang bisa merusak rumah tangganya.

·     Pentingnya dalam memutuskan sesuatu untuk beristikharah dan bermusyawarah dengan orang- orang bijaksana yang memiliki pandangan yang jauh.

·     Perempuan akan sangat tertekan dan tersakiti jika tidak dicintai suaminya.  Oleh karena itu, hanya dorongan iman dan pemahaman -jika seorang suami belum mencintai-, untuk tetap memperlakukan dengan baik, baik dengan perkataan atau sikap serta memberikan hak- hak istrinya, serta tidak bermaksiat di belakang istrinya.

·     Seorang istri harus menjadi pribadi yang sholihah dan cerdas. Karena kesholihannya akan membuat dia tetap menyayangi, dan terus menjalankan kewajibannya terhadap suami, meskipun ia tidak diberikan hak- haknya bahkan mungkin disakiti. Kesalihan itu juga akan membuat dia menjaga aib dirinya dan keluarganya, juga menjaga lisannya dari hal- hal yang bisa merusak hubungannya dengan suami atau keluarganya. Dia juga menjaga dirinya dari kemaksiatan dan segala godaan yang bisa saja dia pilih sebagai bentuk pelampiasan atas kesedihan, kegelisahan serta rasa sakit yang dirasakannya. Ia juga tetap yakin akan pertolongan-Nya, dan terus taqarub serta mendoakan suaminya.

·     Adapun kecerdasannya akan membimbing dia tuk terus mendamaikan suasana, bahkan sekalipun berkaitan dengan orang lain, baik keluarganya atau teman suaminya. Dia akan dipimpin oleh akal dan pemahamannya, bukan perasaannya sehingga dia menyerah dengan keadaan. Dia juga senantiasa punya mimpi besar, sehingga dia akan terus tersibukkan dengan kebaikan walaupun dia tetap harus menghadapi masalah dalam keluarganya. Semua itu tidak menghalanginya untuk berkarya dan menjalankan kewajiban lain di tengah umat dan masyarakat.

·     Dalam Islam boleh saja bahkan diperintahkan seorang istri berusaha untuk memperhias dan mempercantik dirinya di hadapan suaminya. Jika diniatkan untuk beribadah maka itu akan berpahala.

·     Mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik anak harus dengan cinta yang dicurahkan dari kedua orangtua. Bukan dengan keterpaksaan atau perasaan benci yang disembunyikan.

·     Wanita yang dulu memiliki kisah cinta dengan seorang laki- laki yang pada akhirnya tidak menikah dengannya harus berusaha menguatkan dan mengahrapkan kebahagiaan bagi keluarganya. Menjauhi dan tidak perlu tau urusan keluarganya. Dia harus berusaha bermuhasabah dengan merendah, dan menganggap perempuan yang akhirnya menjadi jodohnya memang lebih baik dari dirinya. Di sisi lain ia harus senantiasa berhusnudzon kepada Rabb-nya bahwa akan ada kehidupan, dan masa depan, serta sosok yang lebih baik yang Dia siapkan untuknya.

·     Film ini menggambarkan kehidupan pesantren yang megah, dan modern. Dimana para santrinya tidak hanya diajarkan dan dibekali dengan ilmu tsaqofah Islam saja, tapi juga ilmu- ilmu kehidupan yang memang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman.

·     Pesantren bukan sesuatu yang buruk, kotor, kumuh dan terbelakang. Film ini merubah mindset tersebut, sehingga pesantren bisa menjadi alternatif pendidikan yang Islami di zaman ini.

·     Dalam menanamkan berbagai ilmu kepada para santri harus dilandasi dengan penanaman akidah yang kokoh dan serta pemikiran Islam yang benar dan kuat. Sehingga jika ada pemikiran lain yang tidak sesuai dengan Islam, maka dipelajari hanya dalam rangka untuk diketahui kesalahannya, bukan untuk diyakini dan diadopsi. Berbeda dengan ilmu dan teknologi yang bersifat universal, yang bisa dipelajari dan diadopsi oleh siapapun.

Kamis, 23 November 2023

Free Palestina itu Bukan Sekedar… (Part 2)


Bukan sekedar karena Gaza dibantai, dan berdarah akan tetapi tuk menghapuskan penjajahan seutuhnya di atas bumi suci, bumi nya para nabi.

Jika kita membela dan bergerak untuk Palestina karena pembantaian dan pembunuhan yang semakin hari semakin tak manusiawi, maka itu sebuah kesalahan karena nyatanya ada tidaknya pembantaian di Gaza, Palestina sudah lebih dari satu abad lamanya terjajah. Sejak Inggris menguasainya, kemudian dibuatlah perjanjian Balfour, sehingga mengakibatkan adanya peristiwa nakhbah (pengusiran) oleh kaum Israel, ditambah lagi dukungan para penguasa negeri kaum muslimin terutama negara- negara Arab dan Timur Tengah yang melakukan normalisasi dengan institusi Israel itu. Dengan begitu, AS semakin mendapatkan jalan untuk memasukkan segala bentuk bantuan kepada para penjajah itu.

Jadi sekalipun agresi militer yang dilakukan oleh Israel sedang berhenti, tapi tidaklah kita lupa bahwa hampir seluruh wilayah barat dan utara Palestina sudah diduduki oleh para penjajah yang biadab itu? Apakah kita lupa bahwa setiap hari telah terjadi pengangkapan, penembakan, dan penindasan kepada kaum muslimin di berbagai kota di Palestina? Tidaklah kita melihat betapa banyak saudara kita disana yang tidak bisa menjalankan ibadah terutama di bulan Ramadhan dengan kekhusyukan dan ketenangan? Bukankah kita lupa jika Masjid Kubah Emas yang merupakan tempat yang begitu sakral bagi agama kita diinjak- injak kaki najis para zionis? Bukankah kita lupa bahwa puluhan tahun, dari genarasi ke generasi mereka yang tinggal di Gaza tak bisa menyaksikan apalagi menginjakkan kaki mereka di Masjidil Aqsha? Apakah kita lupa bahwa Masjid Kubah Emas itu sering kali mereka tutup, sehingga banyak yang tidak bisa merasakan nikmat nya bermunajat di tempat para Nabi dan Rasul pernah singgah itu? Tidak kah kita ingat bahwa sudah hampir 20 tahun saudara kita di Gaza diboikot, mereka tidak bisa keluar, bergerak, dan ancaman udara mungkin saja terjadi sewaktu- waktu yang dimaukan oleh mereka?

Cukup sudah bagi kita sikap para penguasa pengecut yang tamak akan tahta dan dunia. Dengan ringan memberi izin AS tuk terus membesarkan dan merawat entitas yang begitu rapuh itu dengan dana yang sangat besar setelah entitas itu dilahirkan dengan bantuan sang bidan bernama Inggris.  Para penguasa tak menampakkan sama sekali rasa tanggung jawab tuk mempertahankan tanah suci dari penjajah yang tidak punya adab dan jiwa kemanusiaan, haus darah dan tak punya rasa kasih sayang bahkan pada bayi, wanita dan hewan.


                                                                                                                                                                                       Para penguasa antek itu tak lain hanya mengikuti perintah majikannya, agar hubungan mereka terus mesra, tapi lupa akan firman-Nya, janji dan ancaman-Nya, sabda Nabinya, juga para pendahulu yang jelas telah berhasil menjaga kemuliaan Islam serta kaum muslimin. Sikap mereka menormalisasi dengan Israel tak lain adalah bentuk keridaan mereka terhadap keberadaan entitas mereka di bumi Palestina, mengamini solusi PBB dengan kebijakan yang tidak logis apalagi Islami dengan adanya solusi dua negara. Normalisasi yang menjadikan Israel layaknya kawan yang bisa digandeng, bukan musuh yang harus dilawan. Normalisasi yang melahrikan dampak besar pada kurikulum pendidikan, budaya, ekonomi dan dampak- dampak sebagainya. 

              Maka, jelaslah #FreePalestina itu bukan sekedar karena Gaza sedang dibombardir dan dibantai dengan begitu tak manusiawi, tapi ini adalah soal keharusan menghapuskan penjajahan di tanah kaum muslimin yang memang sudah lebih dari seabad lamanya dirampas. Maka ada tidaknya bombardir itu maka seruan ini harus terus ada, hingga kesuciaan tanah dan kehormatan para penduduknya serta kaum muslimin ini kembali dengan sempurna. Karena nyatanya, segala bentuk penindasan, dan pembantaian itu tidak akan terjadi ketika penjajahan sudah sirna.

Free Palestina itu Bukan Sekedar… (Part 1)

Free Palestina itu bukan sekedar untuk memerdekakan tanah airnya dari penjajahan fisik, namun harus untuk melepaskan belenggu pemikiran penjajah yang telah mandarah daging, merusak dan memecah belah barisan..


              Berbicara Palestina memang tidak akan ada habisnya, tidak akan ada puasnya, tidak akan ada lelahnya, dan tidak akan ada kata kecewa tuk selalu membelanya. Sudah lebih dari satu bulan perang #Badai Al-Aqsha yang membuat dunia heboh, dan berbagai macam sikap umat manusia ini bermunculan. Mulai dari negeri- negeri Timur Tengah, negeri Asia, Australia, Eropa hingga Amerika.

              Ummat Islam layaknya terbangun dari tidurnya, dan tersadar dari mimpi panjangnya. Ummat Islam layaknya singa yang geraknya begitu menggemparkan seluruh manusia, media, bahkan negara dengan para penguasa pengkhianatnya. Aksi solidaritas kemanusiaan pun bermunculan dari berbagai kalangan yang bermacam- macam agamnya. Media masa, media sosial dengan berbagai platformnya seolah tak ada yang lebih menarik kecuali membincangkan Gaza, Palestina, perang antara Israel dengan para pejuang yang begitu luar biasa.

              Aksi save Palestina, free palestina pecah dimana-mana, jutaan manusia turun di jalan. Berbagai tuntutan keras dikumandangkan. Berbagai kritik dan teriakan lantang diserukan.


              Ketahuilah, aksi belas Palestina tidaklah sekedar untuk memerdekakan tanah airnya saja dari penjajahan fisik para zionis yang begitu rapuh, namun begitu tamaknya. Jika hanya sekedar tahrir wathan (pembebasan tanah air) maka bukanlah negara kita juga sudah memperolehnya sejak lebih dari 70 tahun lebih yang lalu?

              Namun, tidaklah kita lihat jika yang berubah hanyalah sekedar jenis penjajahannya. Sehingga – sebagaimana kita tahu- pada dasarnya kita masih terjajah, masih terpuruk, bahkan tergerus dan terbelenggu dengan budaya, pemikiran bahkan cara pandang kaum barat dalam kehidupan? Tidaklah penjajahan itu menjadikan penguasa hanyalah sekedar boneka, yang bisa dipermainkan sang tuan dengan semaunya? Bukankah penjajahan itu membuat kekayaan diraup oleh manusia tamak akan harta dan dunia? Bukankah kemiskinan, kebodohan masih tetap merajalela? Katanya sudah merdeka..?

              Iya, jika kemerdekaan itu hanya secara fisik saja, maka seperti itulah yang akan terus dirasa. Kezaliman tetap merajalela, kesempitan hidup begitu merata, dan kata merdeka seolah hanya slogan semata. Iya kita dengan Palestina sama, sama- sama masih terjajah, akan tetapi penjajahan mereka secara fisik, musuh mereka dalam bentuk fisik, sehingga nampak jelas mana yang benar dan salah. Perang dan perlawanan di antara mereka secara fisik, sehingga akan terlihat jelas di hadapan mata bahwa darah dan nyawa yang menjadi taruhannya.

              Namun kita, juga dijajah dengan pemikiran, budaya, peraturan, dan gaya hidup kaum barat, yang semuanya nampak begitu samar, lembut, bahkan tercampur antara kebenaran dan kebatilan. Sehingga banyak dari kita yang tidak sadar, terpalingkan, dan tergerus dalam jalan menyesatkan.


              Maka apa yang menjadi solusi bagi mereka, pun juga itulah yang seharusnya menjadi solusi bagi kita. Sama- sama merubah kezaliman, penindasan, pengabaian terhadap perintah-Nya dengan satu cara yaitu merubah tatanan kehidupan dengan landasan aqidah Islam, serta menjadikan syariat-Nya sebagai satu-satunya pemandu kehidupan.