Pages

Jumat, 07 November 2014

TANYA JAWAB BIOGRAFI SINGKAT IMAM AHMAD




1.      Dimana dan kapan Imam Ahmad lahir ?

Jawab :

            Imam Ahmad dilahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada tahun 164 H/780 M. Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dimana para ahli dalam bidangnya masing-masing berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu.



2.      Siapa nama lengkap Imam Ahmad?

Jawab :

Nama beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-SyaibaniyAyah Imam Ahmad Muhammad.



3.      Bagaimana latar belakang keluarga Imam Ahmad dalam mendidik beliau semasa kecil?

Jawab :

            Imam Ahmad adalah seseorang yang ditinggal oleh ayahnya ketika masih berumur sangat kecil, yaitu sekitar 3 tahun. Ketika masih kecil pula, kakeknya pun juga meninggalkannya. Sehingga iahidup bersama ibunya dalam kehidupan yang sederhana. Namun, kesederhanaan ini tak menghalangi Imam Ahmad untuk terus menimba ilmu kepada berbagai guru di berbagai tempat.

            Ibunya yang sangat sholihah dan memiliki kepribadian yang sangat mulia, mengajarkan berbagai hal kepada nya. Walau ia hidup dalam posisiyatim dan miskin, ibunya tetap memberinya semangat agar selalu menuntut ilmu dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Ia pula mengajarkan agar selalu memiliki sikap yang senantiasa berbuat kebaikan, kebenaran, dan mencintai ilmu sepanjang hayatnya.

            Hampir bisa dikatakan bahwa Imam Ahmad memang tidak merasakan hidup bersama ayah dan kakeknya. Akan tetapi, hal itu tidak menghalanginya untuk mewarisi berbagai sifat istimewa dariayahnya, begitu pula dari kakeknya. Dari ayahnya, dia menjadi seseorang yang sangat pemberani dan memiliki keciintaan yang tinggi terhadap jihad dijalan Allah. Dari kakeknya, dia juga mewarisi kemuliaan nasab dan kedudukan.



4.      Pada usia berapa Imam Ahmad menikah? dan bagaimana keluarga yang dibentuknya?

Jawab :

            Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Ia melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.



5.      Bagaimana proses belajar Imam Ahmad sejak awal belajar hingga mulai penulisan hadits?

Jawab :

            Imam Ahmad dilahirkan didalm lingkungan yang sangat kondusif. Di Kota Baghdad, tempat ia lahir, tempat dimana ia menimba lilmu pertama kalinya, disanalah pula pusat peradaban Islam berdiri ketika itu. Dimana berbagai ilmu berkembang dan tokoh ilmu islam berada disana. Mulai dari qari’, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.  Dengan lingkungan keluarga yang memiliki tradisi menjadi orang besar, lalu tinggal di lingkungan pusat peradaban dunia, tentu saja menjadikan Imam Ahmad memiliki lingkungan yang sangat kondusif dan kesempatan yang besar untuk menjadi seorang yang besar pula.

            Imam Ahmad berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna saat berumur 10 tahun. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadits.  Di usia remajanya, Imam Ahmad bekerja sebagai tukang pos untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu ia lakukan sambil membagi waktunya mempelajari ilmu dari tokoh-tokoh ulama hadits di Baghdad. Pada usia 14 tahun Imam Ahmad muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Madzhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadits dari seorang ahli hadits Baghdad, Haitsam bin Bishr.

            Imam Ahmad mulai tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim sekitar tiga ratus ribu hadits lebih.

            Pada tahun 186, beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman, Mekah, Madinah, dan Suriah, dan lain sebagainya.

1.    Bashrah; beliau kunjungi pada tahun 186 hijriah, kedua kalinya beliau mengunjungi pada tahun 190 hijriah, yang ketiga beliau kunjungi pada tahun 194 hijriah, dan yang keempat beliau mengunjungi pada tahun 200 hijriah.

2.    Kufah; beliau mengunjunginya pada tahun 183 hijriah, dan keluar darinya pada tahun yang  sama, dan ini merupakan rihlah beliau yang pertama kali setelah keluar dari Baghdad.

3.    Makkah; beliau memasukinya pada tahun 187 hijriah, di sana berjumpa dengan imam Syafi’i. kemudian beliau mengunjunginya lagi pada tahun 196 hijriah, dan beliau juga pernah tinggal di Makkah pada tahun 197, pada tahun itu bertemu dengan Abdurrazzaq. Kemudian pada tahun 199 hijriah beliau keluar dari Makkah.

4.    Yaman; beliau meninggalkan Makkah menuju Yaman dengan berjalan kaki pada tahun 199 hijriah. Tinggal di depan pintu Ibrahim bin ‘Uqail selama dua hari dan dapat menulis hadits dari Adurrazzaq.

5.    Tharsus; Abdullah menceritakan; ‘ ayahku keluar menuju Tharsus dengan berjalan kaki.

6.    Wasith; Imam Ahmad menuturkan tentang perjalanan beliau; ‘ aku pernah tinggal di tempat Yahya bin Sa’id Al Qaththan, kemudian keluar menuju Wasith.’

7.    Ar Riqqah; Imam Ahmad menuturkan; ‘Di Riqqah aku tidak menemukan seseorang yang lebih utama ketimbang Fayyadl bin Muhammad bin Sinan.’

8.    Ibadan; beliau mengunjunginya pada tahun 186 hijriah, di sana tinggal Abu Ar Rabi’ dan beliau dapat menulis hadits darinya.

9.    Mesir; beliau berjanji kepada imam Syafi’I untuk mengunjunginya di Mesir, akan tetapi dirham tidak menopangnya mengunjungi imam Syafi’I di sana.

                Walaupun sangat menghormati dan menuntut ilmu kepada ulama-ulama Madzhab Hanafi dan Imam Syafii, namun Imam Ahmad memiliki arah pemikiran fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tidak fanatik dan membuka diri.









6.      Siapa saja guru yang mengajari dan murid yang pernah diajar oleh Imam Ahmad?

Jawab :

Semenjak kecil imam Ahmad memulai untuk belajar, banyak sekali guru-guru beliau, diantaranya;

1.    Husyaim bin Basyir

2.    Sufyan bin Uyainah

3.    Ibrahim bin Sa’ad

4.    Yahya bin Sa’id al Qathth

5.    Wal?ƒA®d bin Muslim

6.    Ismail bin ‘Ulaiyah

7.    Al Imam Asy Syafi’i

8.    Al Qadli Abu Yusuf

9.    Ali bin Hasyim bin al Barid

10.     Mu’tamar bin Sulaiman

11.     Waki’ bin Al Jarrah

12.     ‘Amru bin Muhamad bin Ukh asy Syura

13.     Ibnu Numair

14.     Abu Bakar Bin Iyas

15.     Muhamad bin Ubaid ath Thanafusi

16.     Yahya bin Abi Zaidah

17.     Abdul Rahman bin Mahdi

18.     Yazid bin Harun

19.     Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani

20.     Muhammad bin Ja’far

Tidak hanya ahli hadits dari kalangan murid-murid beliau saja yang meriwayatkan dari beliau, tetapi guru-guru beliau dan ulama-ulama besar pada masanya pun tidak ketinggalan untuk meriwayatkan dari beliau. Dengan ini ada klasifikasi tersendiri dalam kategori murid beliau, diantaranya :

Guru beliau yang meriwayatkan hadits dari beliau :

1.    Abdurrazzaq

2.    Abdurrahman bin Mahdi

3.    Waki’ bin Al Jarrah

4.    Al Imam Asy Syafi’i

5.    Yahya bin Adam

6.    Al Hasan bin Musa al Asy-yab

Sedangkan dari ulama-ulama besar pada masanya yang meriwayatkan dari beliau adalah :

1.    Al Imam Al Bukhari

2.    Al Imam Muslim bin Hajjaj

3.    Al Imam Abu Daud

4.    Al Imam At Tirmidzi

5.    Al Imam Ibnu Majah

6.    Al Imam An Nasa`i

Dan murid-murid beliau yang meriwayatkan dari beliau adalah :

1.    Ali bin Al Madini

2.    Yahya bin Ma’in

3.    Dahim Asy Syami

4.    Ahmad bin Abi Al Hawari

5.    Ahmad bin Shalih Al Mishri

7.      Apa saja karya yang telah diciptakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal?

Jawab :

Karya-Karya Imam Ahmad bin Hanbal 

1.    Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.

2.    Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini telah hilang”.

3.    Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh

4.    Kitab at-Tarikh

5.    Kitab Hadits Syu'bah

6.    Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an

7.    Kitab Jawabah al-Qur`an

8.    Kitab al-Manasik al-Kabir

9.    Kitab al-Manasik as-Saghir

Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal

1.    Kitab al-'Ilal

2.    Kitab al-Manasik

3.    Kitab az-Zuhd

4.    Kitab al-Iman

5.    Kitab al-Masa'il

6.    Kitab al-Asyribah

7.    Kitab al-Fadha'il

8.    Kitab Tha'ah ar-Rasul

9.    Kitab al-Fara'idh

10.               Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah









8.      Apa saja julukan julukan untuk Imam Ahmad Bin Hanbal dan pujian pujian baginya?

Jawab :



Hampir setiap guru gurunya, murid muridnya, dan orang orang besar yang mengenal Imam Ahmad mengakui kehebatannya dalam berbagai hal.  Imam Syafi'i menjuluki muridnya itu sebagai imam dalam delapan bidang. "Ahmad bin Hanbal adalah Imam dalam hadis, Imam dalam fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Alquran, Imam dalam kefakiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara', dan Imam dalam sunah," tutur Imam Syafi'i. guruSebuah pengakuan yang tulus dari seorang guru kepada murid yang dibanggakannya. Kekaguman serupa juga diungkapkan gurunya yang lain, Abdur Rozzaq Bin Hammam. "Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad bin Hanbal," ungkap Abdur Rozzaq. Ibrahim Al-Harbi pun berdecak kagum dengan sosok Ahmad bin Hanbal. "Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu," ungkapnya.

Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Ia masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

Abu Ja’far berkata, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Ia sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya.” Dan masih banyak lagi pujian serta julukan yang tidak tercantumkan.

9.      Sifat sifat apa saja yang dimiliki oleh Imam Ahmad sehingga ia dapat menjadi seorang Imam yang besar dan masyhur?                                                            

Jawab :

Ia adalah seorang yang wara’ dan menjaga harga diri, tawadhu atas kebaikan yang telah dilakukannya sebagaimana kisah kisah dibawah ini yang menggambarkan hal tersebut.

Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”.

Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”.

Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Ia sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”.

Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

                        Ia juga sabar dalam menuntut ilmu, Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdurrazzaq”.

10.  Ada salah satu kitab termasyhur  yang ditulis oleh Imam Ahmad yaitu Musnad, apakah isi dari kitab itu? Dan mengapa dikenal sebagai kitab yang terbesar yang ditulis olehnya?

Jawab :

Kitab Musnad adalah kitab yang berisi hadits hadits dimana banyak sejarah yang menyebutkan hadits yang ditulis dalam kitab tersebut lebih dari dua puluh tujuh ribu, ada juga yang berpendapat bahwa jumlah haditsnya sekitar empat puluh ribu. Disamping beliau mengatakannya sebagai kumpulan hadits-hadits shahih dan layak dijadikan hujjah, karya tersebut juga mendapat pengakuan yang hebat dari para ahli hadits.

11.  Siapa saja Khalifah yang pendapatnya bertentangan dengan Imam Ahmad?

Jawab :

Ø  Khalifah al-Makmun

Ø  Khalifah al-Mu‘tashim

Ø  Khalifah al Watsiq



12.  Mengapa pendapat kedua belah pihak tersebut bisa bertolak belakang? Jelaskan    kronologinya?                                                                                           

Jawab :

Kelompok Mu‘tazilah, secara khusus, mendapat sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan Alquran.

Sebenarnya Harun ar-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang kemakhlukan Alquran. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Aku pernah mendengar Harun ar-Rasyid berkata, ‘Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy mengatakan bahwa Alquran itu makhluk. Merupakan kewajibanku, jika Allah menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun.’” Tatkala Khalifah ar-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu‘tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka mampu melakukannya.           

Begitu juga dengan Imam Ahmad beliau mentabani pendapat dari khalifah Harun Ar-Rasyid sehingga beliau mendapatkan banyak ancama dan pertentangan dari penguasa ketika itu.

13.  Apa akibat yang didapatkan oleh Imam Ahmad dikarenakan perbedaan pendapat tersebut?                                                                                        

Jawab :

                             Al-Makmun memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di sana karena telah sampai kabar tentang kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.

Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah mendapat wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan Alquran dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan Alquran, tetapi beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar 28 bulan –atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.

Selama itu pula, setiap harinya al-Mu‘tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim kepada beliau. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.

14.  Kapan cobaan dan penyiksaan yang didapatkan oleh Imam Ahmad itu berakhir?

Jawab :

            Ujian dan tantangan yang dihadapi Imam Ahmad adalah hempasan badai filsafat atau paham-paham Mu”tazilah yang sudah merasuk di kalangan penguasa, tepatnya di masa al Makmun dengan idenya atas kemakhlukan al Qur’an. Sekalipun Imam Ahmad sadar akan bahaya yang segera menimpanya, namun beliau tetap gigih mempertahankan pendirian dan mematahkan hujjah kaum Mu’tazilah serta mengingatkan akan bahaya filsafat terhadap kemurnian agama. Beliau berkata tegas pada sultan bahwa al Qur’an bukanlah makhluk, sehingga beliau diseret ke penjara. Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al Makmun, al Mu’tashim dan terakhir al Watsiq. Setelah al Watsiq tiada, diganti oleh al Mutawakkil yang arif dan bijaksana dan Imam Ahmad pun dibebaskan.

Imam Ahmad  lama mendekam dalam penjara dan dikucilkan dari masyarakat, namun berkat keteguhan dan kesabarannya selain mendapat penghargaan dari sultan juga memperoleh keharuman atas namanya. Ajarannya makin banyak diikuti orang dan madzabnya tersebar di seputar Irak dan Syam.

15.  Bagaimana kronologi kejadian ketika  beliau wafat?

Jawab :

      Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun 241, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah ditentukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan kepada ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada) hari kematian kami.”





Created by:

Shelly Berliana, Arina Alfadhiya, Qonita Fairuz S.













    


EKONOMI PERTANIAN MASYARAKAT DIENG


A.      Komoditas Pertanian
1.       Tanaman utama               : kentang dan wortel
2.       Tanaman tambahan        : loncang, bawang putih, cabe dieng, terong belanda, kubis, carica, seledri.
3.     Pertanian yang dilakukan mayoritas adalah pertanian individu yang dikelola oleh petani sendiri dan saat ini baru akan dimulai pertanian yang dikelola oleh LPMH (Lembaga Pertanian Masyarakat Hutan), yang mengalihkan menjadi pertanian pariwisata.

Wortel dan kentang merupakan tanaman yang paling banyak ditanam di Dieng
Wortel dan kentang merupakan tanaman yang paling banyak ditanam di Dieng
B.      Sejarah Pertanian Dieng
1.   Lahan pertanian di Dieng berbentuk telaga atau wilayah yang berair, yang semakin lama tertimbun oleh tanah sehingga terbentuklah lahan subur yang sangat cocok untuk pertanian.
2.       Lahan pertanian didapatkan dari pembabatan hutan.

C.      Kepemilikan Lahan
1.    Lahan milik pribadi, yaitu dari warisan turun temurun.
2.    Lahan milik Aparat Desa, yang dikelola oleh anggota aparat Desa.
3.    Lahan sewaan yang didapatkan dari pemilik lahan yang tidak mampu merawat lahannya seara individu, dengan harga :
§  Lahan di perbukitan/ di lahan miring        : Rp 10 -15 juta/ tahun/ ha
§  Lahan di bawah/ di lahan datar               : Rp 28-39 juta/ tahun/ ha

D.      Proses Penanaman
1.       Bahan pertanian :
§  Benih :      
-          Kentang dan bawang putih dibuat sendiri
-          Wortel, kubis, seledri dan loncang dibeli di toko pertanian
-          Carica dan terong belanda dari biji atau stek
§  Pupuk :
-          Pupuk kandang     : kotoran ayam (1 truk = Rp 2 juta)
-          Urea                           : M4
2.  Biasanya wortel ditumpang sari dengan dengan loncang dan bawang putih. Wortel dan kentang membutuhkan 3-4 bulan untuk mencapai masa panen. Sedangkan carica dan dan terong belanda dipanen per minggu.
3.  Hama : es atau embun yang membeku dan melapisi daun tanaman, yang kemudian menghambat pertumbuhan tanaman dan terjadi pada musim hujan, ketika suhunya sangat rendah.

Panen kentang dilakukan oleh petani secara individu
 
E.       Pengolahan Hasil Panen
1.  Wortel dan loncang dibeli oleh tengkulak dengan cara memborong hasil at petani diuntungkan, tetpanen dalam suatu lahan. Harga yang ditentukan berdasar kan perkiraan oelh tengkulak, dan disepakati anatara kedua belah pihak. Cara ini terkadang membuat petani diuntungkan, tetapi lebih sering dirugikan oleh tengkulak.
2.  Kentang, bawang putih, terong belanda, dan carica dipanen secara individu oleh petani, kemudian dibawa pulang dan nantinya diambil atau dibeli oleh tengkulak.

F.       Harga Sayuran
1.    Kentang ungu   : Rp 20.000/kg
Kentang merah : Rp 12.000- Rp 17.500/kg
Kentang biasa/coklat : Rp 5.500- Rp 8.500/kg
2.    Wortel              : Rp 1.500/ kg
3.    Bawang putih  : Rp 7.000/ kg
4.    Terong belanda : Rp 7.000/ kg
5.    Carica                : Rp 2.000/ kg (Musim Hujan)
                            Rp 6.000- Rp 6.500/ kg (Musim Kemarau)
 
Carica adalah tanaman langka yang hanya bisa tumbuh di tiga tempat

G.     Pemanfaatan Hasil Panen
1.       Makan sehari-hari
2.       Kebutuhan sehari-hari
3.       Pendidikan
4.       Modal penanaman kembali

H.      Regenerasi Petani
1.       Ada petani yang menginginkan lahan yang mereke miliki dan kelola dilanjutkan oleh anak mereka. Agar lahan yang mereka tidak perlu disewakan atau dijual ke orang lain.
2.       Ada pula petani yang sangat tidak mengingunkan anak mereka melanjutkan mengelola lahan yang mereka miliki. Karena menurut mereka, bertani adalah pekerjaan yang sangat berat, sulit, sedangkan hasilnya tidak sebanding. Sehingga dia memilih untuk menyewakan lahannya kepada orang lain saja.

  



I.        Hipotesa Permasalahan
Dari pemaparanfakta diatas, kami mengambil beberapa hepotesa permasalahan yang dialami pertanian masyarakat di daerah Dieng, Wonosobo :
1.    Adanya penyewaan lahan
Penyewaan lahan menyebabkan keuntungan besar bagi pemilik lahan, dan petani berdampak dirugikan dan beban yang semakin berat.sedangkan dalam Islam penyaewaan lahan untuk pertanian dilarangkarena sesungguhnya SDA memiliki pengelolaannya sendiri.
2.    Pupuk yang digunakan adalah pupuk najis
Kebanyakan petani di Dieng menggunakan pupuk kandan (kotoran ayam) sebagai pupuk utama pertanian. Sedangkan dalam Islam segala hal yang terkandung najis sangatlah dilarang untuk dijualbelikan apalagi dipergunakan. Selain itu pula pupuk kandang ini sangatlah mahal, karena mereka harus membelinya diluar kota. Padahal mereka seharusnya bisa memanfaatkan pupuk kompos dari daun-daun sayuran yang tidak dikonsumsi, misal daun bawang putih, daun wortel, dsb.
3.    Pengelolaan hasil panen
Salah satu cara pengelolaan hasil panen adalah dengan cara diborong oleh tengkulak, dengan memperkirakan harga setelah melihat hasil panen yang masih ditanam di suatu lahan. Sedangkan dalam pandangan Islam, pembelian yang tidak terlihat fakta bendanya, maka tidak boleh atau tidak sah dilakukan jual beli. Karena, akan menyebabkan kerugian di salah satu maupun kedua pihak yang bersangkutan.
4.    Fenomena alam terbentuknya es
Es akan merusak jaringan dan menghambat pertumbuhan sayuran.
5.    Tidak adanya generasi yang melanjutkan pertanian menyebabkan berhentinya pertanian yang ada.
6.    Wisata lebih diminati daripada pengelolaah SDA/ pertanian.
Pariwisata memang mendapatkan keuntungan yang besar, namun pariwisata yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulakan kerusakan alam dan lingkungan. Dan jika pertanian ditinggalkan, maka bahan pangan bisa tidak ada lagi, sehingga harus mengimpor dari wilayah luar Dieng. Sedangkan lahan disana sangatlah berguna untuk sumber utama sayuran di daerah Dieng dan kota-kota di Jawa Tengah.





Selasa, 07 Oktober 2014

CACATAN PERJALANAN : LONGMARCH TO NGREWENG




   Di Semester pertama kami memulai duduk di bangku SMA ini, kami kembali melakukan longmarch yang kesekian kalinya. Longmarch ini dimaksudkan untuk melatih dasar kepemimpinan kepada para santri. Dan pada kesempatan longmarch kali ini, kami akan melakukan sebuah perjalanan menuju ke sebuah pantai yang berada di Gunung Kidul. Jarak antara asrama Blok O sebagai tempat start longmarch dengan pantai tersebut adalah kurang lebih 80 Km.
   Pada awalnya, kami akan menempuh jarak sejauh itu dengan berjalan kaki, dan diperkirakan menghabiskan waktu hingga 32 jam. Namun, karena diperkirakan kami belum mampu menempuh jarak sejauh itu, maka para Ustadz memberi keringanan kepada kami. Sehingga kami hanya berjalan sejauh 37 Km, yang dimulai dari masjid Al-Ikhlas yang berada di kecamatan Tepus.
Pada hari jum’at, 12 september 2014 kami melakukan longmarch menuju pantai Greweng. Tepat pada pukul 13.30 WIB, kami telah berkumpul di asrama Blok O. Disana para ustadz yang akan mendampingi kami pun juga sudah berkumpul pula. Di halaman asrama Blok O kami memulai perjalanan dengan breaving terlebih dahulu, dan dilanjutkan membaca doa sebelum berangkat. 
   Sekitar pukul 14.00 WIB kami berangkat menggunakan truk yang telah kami sewa. Semua tas kami tata dengan rapi didalam truk seperti biasanya. Dan kami pun masuk satu per satu kedalam truk dan duduk berdampingan. Beberapa adik kelas kami mengucapkan selamat jalan, sambil bersalaman. Dan ketika truk kami sudah berjalan, mereka pun melambaikan tangan tanda perpisahan.
   Selama perjalanan, kebanyakan dari kami memilih duduk dan memejamkan mata untuk tidur. Tetapi, ada pula yang menikmati perjalanan di truk kali itu dengan melihat pemandangan disepanjang jalan. Menikmati semilir angin sore yang berhembus.
Jum’at itu, pada pukul 16.30 WIB, truk berhenti di seberang jalan  Masjid Al-Ikhlas. Kami semua turun dari truk untuk sholat Ashar. Kala itu, sedang ada kegiatan masjid –TPA— untuk anak-anak. Satu hal yang membuat kami cukup kecewa adalah sore itu juga, para ustadz menyita semua uang dan makanan yang kami bawa. Rasanya benar-benar menyedihkan. Tidak boleh ada yang tersisa di kantong, dompet atau tas kami. Bahkan, ada beberapa teman yang menyempatkan diri untuk melahap makanannya ditempat itu juga. Walau harus melenyapkan dalam sekejap, mereka anggap itu lebih menguntungkan daripada semua yang dimiliki berpindah tangan.
Disitu pula, kami juga membagikan logistik secara rata. Semua dibagi kedalam 20 plastik kresek yang kemudian kami wajib membawanya setiap santri satu kresek. Setelah semua siap, kami berbaris kembali untuk segera memulai perjalanan  menuju Gua Ngingrong. Langkah perjalanan itu masih terasa ringan, dan beban di pundak belum begitu terasa berat.
Setengah jam kemudian, sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai di gua tersebut. Warung-warung makanan berjajar rapi dipinggir jalan ditempat itu. Awalnya, kami hanya menyaksikan gua yang nampak seperti lorong sumur dari atas. Namun, begitu melihat cuaca dan waktu cukup mendukung, maka kami semua memutuskan untuk turun ke bawah  memasuki gua yang dinamakan Ngingrong itu. Perjalanan ke bawah cukup membahayakan karena untuk sampai di gua tersebut kami harus melewati  jalan yang sangat landai, setapak dan terjal karena bebatuan.
Sampai di depan mulut gua Ngingrong. Tidak nampak apapun di dalamnya karena begitu gelap. Tidak ada sedikitpun sinar matahari yang menyentuh bagian dalam gua tersebut.  


Beberapa teman masih sempat untuk memasuki gua Ngingrong. Namun akhirnya ustadz meminta kami semua kembali ke atas setelah melihat langit yang tidak lama lagi akan gelap jika kami tidak segera kembali. Usai mengabadikan tempat penting itu dengan beberapa jepretan kamera yang kami bawa, kami pun harus segera kembali ke atas dan melanjutkan longmarch yang masih panjang.
   Saat kami akan kembali ke atas, ustadz mengarahkan jalan yang salah. Karena jalan yang menanjak cukup banyak, di sana kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Kemudian dengan perkiraan yang tepat, akhirnya kami menemukan jalan yang tepat, sehingga kami bisa naik ke atas lagi, dan mengambil tas-tas kami yang sengaja ditinggalkan diatas. Ketika matahari sudah tak nampak lagi, kami sudah kembali berada dijalan beraspal itu.
   Perjalanan di lanjutkan meskipun azan berkumandang dan hari semakin gelap. Beberapa dari kami menyalakan senter. Pohon-pohon dan rerumputan di lahan yang luas selalu kami lewati. Sedikit rumah yang dilewati saat itu. Sesaat kita berulah, membuat suasana jalanan yang sunyi itu menjadi ramai. Tapi hanya sampai kami sudah lelah, dan di tengah-tengah perjalanan menuju masjid selanjutnya kami beristirahat sebentar.

   Sampai pada akhirnya, tidak terasa azan isya telah berkumandang. Lima kilometer telah kami lewati dengan berjalan kaki dan akhirnya sampai juga di masjid selanjutnya. Masjid Al-Huda. Kami menjama’ sholat maghrib dan isya. Jama’ah di masjid itu cukup banyak. Bahkan setelah sholat, para jama’ah masih berada di sana, duduk untuk mendengarkan kultum dari seorang ustadz. Sementara setelah itu, kami makan malam dan kumpul bersama abah. Abah memberikan soal problem solving yang akan diminta jawabannya sesampainya nanti pada pos terakhir.
   Pukul 20.00, perjalanan kembali dilanjutkan malam itu. Dua jam berjalan bersama di malam hari. Pada malam itu, cahaya-cahaya lampu dari perkampungan yang kami lewati menemani perjalanan kami. Jadi, seperti kurang terasa jika kami sedang berjalan di malam hari. Walaupun sebelumnya kita juga melewati jalan yang tidak banyak rumah di pinggirnya.
   22.00, sampailah kami di Al-Ahzar. Kurang lebih 6 kilometer perjalanan yang di tempuh dari sore hingga malam di hari pertama. Masjid Al-Ahzar adalah tempat kami beristirahat di hari pertama. Mempersiapkan energi agar kami dapat bersemangat kembali untuk menempuh perjalanan di pagi hari kemudian.
***
   Semua sudah terbangun pada pukul 4.15. Sabtu, 13 September 2014. Dimulai dari kami bersiap untuk sholat shubuh. Dan setelah sholat shubuh, kami kumpul sebentar dengan abah kembali. Lalu melakukan pemanasan sebelum kembali berjalan.
   Seperti sebelum-sebelumnya yang kami belum ceritakan, di perjalan kami memotret kegiatan masyarakat / warga di pagi hari. Ada yang berjualan, membawa tumpukan rerumputan, anak-anak sudah ada yang sampai di sekolah yang kami lewati, dan hal-hal lain yang kami temukan sebelum
   Kentang dan wortel di kupas dan dipotong besar untuk di rebus. Niat kami, dua macam sayur itu akan kami makan bersama tahu dan bumbu pecel yang kami bawa. Namun sayangnya bumbu pecel itu entah hilang kemana. Malahan, kentang dan wortel pagi itu lama sekali matangnya. Sebenarnya ini kesalahan kami yang tidak memotongnya menjadi bagian yang lebih kecil agar lebih cepat matangnya.
   Selagi menunggu, abah memanggil kami untuk berdiskusi dengan beliau tentang cita-cita atau keberhasilan yang ingin kami capai saat besar nanti. Dimulai dari Thira dan Ina, kemudian Ilmi dan Ami, dst. Sementara yang lain di masa mereka menunggu, terlihat sedang bercanda di dekat kompor spirtus yang sedang berusaha memanaskan air untuk mematangkan kentang-kentang dan wortel-wortel itu. Guru-guru yang lain terlihat seperti tidak sabar menunggu kami untuk segera makan-makanan itu. Dan disinilah terjadi insiden. Satu panci yang berisi kentang-kentang tumpah tersenggol oleh salah satu santri. Entah karena berlebihan saat bercanda sehingga akhirnya timbul kejadian yang tidak diharapkan itu atau... entahlah.
   Suasana sempat terasa sedikit runyam saat itu. Belum ada yang matang, namun sudah ada yang tumpah. Tapi kami hanya tertawa. Entah bagaimana perasaan ustadz saat itu. Menunggu kami selesai dengan sarapan pagi yang berjalan dengan berbagai rintangan. Lama-kelamaan beberapa dari kami sepertinya lumayan bosan menunggunya. Tidak tahu sudah berapa menit kami menunggu, seperti sudah lebih dari satu jam. Ustadz Agus memberitahukan kami bahwa jam 8 kami semua sudah harus siap untuk melanjutkan perjalanan.


   Semua panik saat tahu bahwa waktu yang ditentukan sebentar lagi. Akhirnya acara merebus kentang-wortel dihentikan. Apapun yang terjadi pada kentang wortel itu. Kami terpaksa memakannya dalam keadaan belum matang. Semua harus dipaksakan, karena mubazir. Benar-benar cobaan pagi itu.
Walaupun diperingati jam 8 sudah harus siap, tetap saja kami sedikit molor. Jam 8 lewat kami semua baru benar-benar telah siap untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi, ustadz berterimakasih pada salah satu dari kami yang makanannya disita. Makanan itu rupanya disantap oleh ustadz-ustadz yang mendampingi kami.
Pagi itu kami hanya berjalan kurang lebih selama tiga jam, tapi rasa lelah itu lebih cepat terasa di pagi hari dibandingkan malam hari. Istirahat kami dipagi itu terasa lebih banyak daripada perjalanan sore-malam kemarin. Mungkin juga karena rasa pegal yang kemarin dirasakan memang belum hilang sepenuhnya. Di saat-saat istirahat itu, kami menyempatkan memakan apel hijau yang kami bawa. Selama perjalanan, kami bernyanyi dan bercanda sebagai selingan agar suasana selama berjalan tidak terasa hampa. Kami masih memotret warga yang sedang melakukan pekerjaan masing-masing.
   Akhirnya sampai juga kami di mushola yang sama seperti nama masjid yang pertama kali kami datangi untuk ishoma. Al-Ikhlas. Lama sekali kami beristirahat di sana, kebetulan juga ada dua orang santri yang sakit. Nadiah dan Utin. Pada jam 11 kami sampai di mushola tersebut. Kebanyakan dari kami tidur sebentar di sana baru mulai memasak makan siang. Saat sudah waktunya sholat dzuhur, kami bergantian untuk menjaga masakan dan sholat dzuhur-ashar yang dijama’. Suasana cukup ramai pada waktu itu. Walau kebanyakan dari kami terlelap, namun obrolan para ustadz pun memecahkan keheningan. Awalnya memang hanya 3 ustadz saja yang membuntuti kami sejak awal. Namun entah karena apa, ustadz-ustadz yang lain berdatangan dan bergabung dengan kegirangan.

Menu siang ini adalah singkong dengan gula merah. Dan untuk yang siang ini, makanan telah dimasak sampai berhasil. Dari gula merah dan singkong. Semua dapat menikmatinya kali ini tanpa enggan. Istirahat sudah banyak, sholat dan makan juga sudah. Dan pukul 15.00 WIB kami sudah beres dan siap berjalan.

   Sekitar 10 kilometer lagi kami akan sampai jalan yang akan menuju antara pantai Wedi Ombo atau Ngreweng. Dari tempat istirahat ini kami mulai meminta air kepada penduduk atau rumah warga yang kami lewati. Karena persediaan air kami juga sudah sangat menipis.
   Sampai akhirnya hari sudah hampir senja. Tiga santri berhenti ketika ada ibu-ibu yang menawarkan mereka makanan dan lain-lain. Salah satu dari mereka berlari ke rumah tersebut dengan sangat senang. Kami diberi beberapa snack, pisang goreng dan tape goreng. Setelah itu, ibu tersebut menghampiri kami dan menawarkan makanan besar. Tiga atau empat dari kami kembali mendatangi rumah ibu tersebut dan mendapatkan bekal. Nasi beserta lauknya  Ikan, tempe, dan telor asin—.Kami semua memakannya saat sudah sampai di masjid Al-Mujahidin pada pukul 17.40 WIB, setelah semua sudah sholat magrib-isya. Nadiah dan Utin sudah datang lebih dulu, mereka membawa motor agar dapat kembali beristirahat. Untuk mencapai masjid itu, kami harus menaiki tangga yang panjang karena masjid itu berada di atas.
Kami sangat bersyukur bisa makan malam dengan nasi. Dan setelah itu kami istirahat sebentar sampai masjid kembali azan untuk sholat isya. Tapi kami sudah menjama’-nya. Setelah membereskan teras masjid, tempat kami beristirahat tadi. Semua turun ke bawah dan menunggu semua berkumpul. Kami akan berjalan lagi!
  
Tapi ustadz Agus memberi pilihan lain. Apakah lebih baik kami tetap di masjid ini dan beristirahat dan kami hanya pergi ke Wedi Ombo pada pagi harinya. Atau tetap berjalan malam ini untuk pergi ke Ngreweng baru pagi harinya bisa ke Wedi Ombo. Kebanyakan dari kami semua bahkan sepertinya semua setuju untuk tetap melanjutkan perjalanan malam ini, pergi ke pantai Ngreweng. Bagaimana lagi? Dan dengan senang hati kami melanjutkannya pada sabtu malam itu. Dan untungnya Nadiyah dan Utin sudah sembuh. Tapi malam ini giliran Ilmi yang sakit.
   Malam itu, kami sudah tidak melewati perkampungan lagi yang dimana jalanan itu menjadi gelap gulita. Meskipun bulan menemani dan bintang-bintang bertaburan sangat banyak. Kami sepertinya harus menyalakan seluruh senter yang kami punya. Bahkan awalnya guru hanya menemani kami di perjalanan sebentar, namun setelah itu di belakang sudah ada ustadz yang menjaga kami. Pohon-pohon yang rimbun, juga banyak rerumputan yang kami lewati di sisi kiri kami. Udara terasa sangat dingin. Kami dan pepohonan saling berebut oksigen di malam hari. Tidak apa-apa malam itu dari kami kecuali beberapa diantara kami yang bicara dengan teman yang berjalan di depan atau di belakangnya. Abah berhenti beberapa kali dengan motornya untuk menuntun arah jalan kami.
   Diperjalanan malam kedua yang begitu mencekat itu, beberapa dari kami takut saat abah memberitahu di depan nanti akan ada beberapa anjing. Ustadz Zulfadli diminta untuk menjaga rombongan kami dari anjing-anjing itu agar tidak mendekat. Untung saja tidak terjadi apa-apa.
   Yang kedua kalinya, kami sampai di sebuah pos yang menjaga portal. Beberapa bapak-bapak dari sana terlihat tengah duduk-duduk di kursi panjang di depan pos. Saat ingin melewati mereka, kami semua ditahan. Salah satu dari bapak-bapak itu meminta pada kami untuk membayar biaya masuk ke pantai Wedi Ombo. Mau tak mau kami harus berhenti untuk menunggu ustadz dengan berbagai rasa bingung dan takut. Tak ada yang dapat kami lakukan. Selain karena kami tak ada yang memegang uang sedikitpun, sinyal handpone tak mendukung pula. Sehingga inisiatif kami untuk menghubungi ustadz bukanlah sebuah solusi. Tetapi tiba-tiba, dua ustadz muncul dari belakang kami dan tiba-tiba pula bapak tersebut mengatakan bahwa jika ingin masuk tidak perlu bayar.
Ada yang merasa lega, tapi ada juga setelah itu mengatakan kecurigaan mereka pada bapak itu. Ternyata bapak tersebut diminta untuk menjaili kami oleh ustadz yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan kami ke Ngreweng dengan motor. Semua santri sepertinya sudah memahami watak ustadznya. Konflik kecil itu tidaklah enjadi permasalahan yang berlarut-larut. Akhirnya kami kembali berjalan dan sampailah kami di sebuah warung untuk beristirahat. Zahra merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk beristirahat di warung itu bersama Ilmi. Sayang sekali rasanya. Karena suara ombak dari pantai Wedi Ombo sudah terdengar jelas di telinga kami. Walaupun sebenarnya malam ini kami memutuskan untuk bermalam di alam terbuka, Ngreweng. Jika ke Ngreweng, kata ustadz masih dua kilometer lagi untuk sampai di sana. Tapi, masa tinggal sedikit seperti itu kita sudah menyerah?
   Ke Ngreweng? Itu harus menjadi yang utama. Akhirnya ustadz Zulnaro yang memimpin perjalanan. Perjalanan itu terhenti di tengah jalan karena rombongan yang dituntun oleh ustadz Zulfadli belum muncul. Lumayan lama kami menunggu dengan seluruh senter yang dimatikan. Sekitar 15 menit, akhirnya rombongan tersebut muncul. Ternyata mereka kembali berbalik untuk mengambil kamera yang tertinggal di warung sebelumnya.
   Jalan yang lumayan sempit kami lewati demi sampai ke Ngreweng. Tapi sebelum akhirnya sampai, kami berhenti di depan rumah seseorang. Di sana sudah ada ustadz yang lainnya menunggu kami. Dan kini giliran ustadz Oni yang mengarahkan jalan ke Ngreweng. Ada jalan yang berbentuk turunan. Tapi sebelum melewati itu, kami semua berhenti di depan gua. Entah gua apa namanya.Tapi yang pasti, kami diminta untuk masuk ke dalam. Awalnya per orang diberi waktu lima menit untuk masuk ke dalam sendiri untuk mencari nama masing-masing. Semua santri sudah memiliki firasat kalau ustadz berbohong meskipun ustadz mengelak. Tiba pada giliran ketiga, karena sepertinya lama jika harus masuk sendiri-sendiri. Akhirnya santri di urutan ketiga dan seterusnya masuk secara berkelompok—per lima orang—. Dari santri yang pertama sampai giliran lima santri yang masuk, tidak ada satu pun yang berhasil menemukan nama mereka masing-masing.
 Akhirnya kami tahu, bahwa sebenarnya ustadz hanya meminta kami semua untuk melihat keindahan di dalam gua tersebut. Di salah satu sisi gua, terdapat bagian atas yang berlubang, sehingga disana kami dapat melihat secara langsung pohon yang tumbuh diatas gua tersebut. Akar pohon itu menghiasi lubang gua dengan akar-akar gantungnya yang melayang.
   Setelah semua santri bergilir untuk memasuki gua tersebut, santri pun melakukan perjalanan lagi untuk menuju ke pantai Ngreweng. Di sepanjang perjalan gemuruh suara ombak pun terdengar oleh telinga kami, sehingga kami pun mempercepat  langakah kami. Sebagian tidak sabar untuk merasa bangga karena telah memasuki pantai Ngreweng dan yang lainnya juga ingin segera merasakan istirahat di suasana alam pantai pada malam hari. Meskipun ada rawa dengan tanahnya yang basah, tapi kami tetap melangkahkan kaki dengan tidak mempedulikan hal itu. Karena kami sudah sangat tidak sabar.
   “Kalian!!!” Panggil rombongan yang lebih dulu sampai di pantai. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kami di tempat yang dinanti. Air laut pasang, ombak menghantam karang dan menarik pasir pantai. Udara semakin dingin saja rasanya, membuat kami harus mengeratkan jaket pada tubuh kami. Ada yang berlari dan mencari kepiting. Ada juga yang segera berbaring kemudian memejamkan mata, atau melihat bintang-bintang yang bersinar malam itu. Sementara para ustadz begadang dan membuat api unggun.
   Pukul 23.00 WIB, tikar besar sudah di gelar. Kami mencari tempat masing-masing untuk tidur. Tidur di pinggir pantai memang sangatlah dingin. Beberapa santri yang sudah tidur, kembali terbangun. Karena mengantuk, mereka berusaha untuk kembali tertidur.
   5.00 AM
Minggu, 14 September 2014.
Semua santri telah bangun, kemudian bergantian ke WC untuk berwudhu dan lain- lain. WC di sana hanya ada dua dan itu pun harus membayar dua ribu per ember. Ustadz mengatakan bahwa nanti sekolah yang akan membayarnya. Selain karena terlalu berat bagi kami, kami harus ingat bahwa tak sepeserpun uang kami pegang di dalam tas ataupun dompet kami.
Matahari sudah menerangi pantai Ngreweng dan para santri sudah sholat shubuh. Mereka berkumpul mengelilingi api unggun untuk membakar ubi dan melelehkan coklat pada pagi ini sebagai sarapan. Sambil menunggu dan mengaduk coklat, kami semua bermain kata sambung. Kali ini, tidak ada yang tumpah untungnya.

Akhirnya kami bisa dengan santai menikmati sarapan. Menghabiskan ubi dengan mencolek coklat. Dan setelah itu, banyak hal yang dilakukan. Ada yang sudah bermain air tapi lebih banyak di air payau, ada yang setelah itu hanya duduk-duduk di atas alas tidur tadi malam, juga ada yang selfie atau mungkin memotret yang lain, dan lain-lain. Kemudian semua santri dipaksa masuk ke dalam air payau yang menyebabkan teman-teman menarik santri yang tidak mau basah di sana. Tapi akhirnya semua basah meskipun ada yang hanya setinggi air payau itu sendiri. Dan setelah itu ustadz memfoto kami semua yang sudah berada di dalam air.
Setelah berkali-kali foto, akhirnya semua membereskan barang-barang. Kami akan pergi ke pantai selanjutnya. Wedi Ombo. Tapi sebelum itu, kami dijelaskan tentang air payau dan tanaman yang berada di sana. Ustadz Agus mendapat kepiting besar di sana. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.
Perjalanan malam menuju Ngreweng banyak sekali turunan. Sekarang pasti akan lebih melelahkan, karena saat berbalik ke arah Wedi Ombo pasti lebih banyak tanjakannya. Membuat kami kembali meminta air ke warga. Awalnya kami tidak dapat membayangkan seindah apa pantai tersebut. Saat hampir keluar dari jalan yang mengarah ke Ngreweng, kami dapat melihat laut dari pantai Wedi Ombo. Sangat indah, membuat kami tidak sabar untuk segera sampai di sana. Akhirnya kami segera keluar dari pertigaan dan pergi ke arah kiri, mengikuti turunan untuk mencapai Wedi Ombo.
Saat sampai di bawah. Tidak menyangka bahwa pantai itu ramai sekali. Banyak penjual di depannya untuk menjual makanan dan minuman. Mobil dan motor penuh di sana. Kami menunggu sampai semua sudah turun di samping sebuah bus untuk masuk ke dalam. Pantai ini sudah menjadi tempat wisata memang. Tapi kami tidak melihat banyak sampah yang berserakan.
Semua sudah berkumpul. Ustadz megembalikan semua uang kami yang disita di hari pertama. Beberapa dari kami ada yang sudah dijajankan sebelum masuk ke dalam. Setelah itu kami semua masuk. Semua sudah melepas tas juga sandal atau sepatu, kemudian bermain air pantai. Masih banyak batu-batu besar di sana. Ombak di pantai Wedi Ombo juga hebat. Kami melihat kepiting-kepiting bersembunyi di lubang batu-batu itu.
Hingga akhirnya tidak terasa ternyata kami sudah bermain sampai tengah hari. Ustadz kemudian mengumpulkan kami dan membuat barisan menjadi dua shaf. Ustadz Oni memberikan selamat kepada kami yang akhirnya dapat menuntaskan lebih cepat Longmarch to Ngreweng. 37 kilometer telah kami tempuh dan kami diberi kenang-kenangan dari LDK –Latihan Dasar Kepemimpinan— kali ini dengan sebuah scarf. Kegiatan kali ini diakhiri dengan foto bersama.

Karena seharusnya kami pulang jam sebelas dan sementara kami selesai jam dua belas. Akhirnya tidak ada yang mandi karena truk sudah menunggu. Dengan baju yang masih basah, kami naik ke dalam truk dan pulang ke asrama dengan keadaan yang benar-benar lengket. Hm, pada hari itu... Kami benar-benar harus mandi dengan sangat bersih.